Sejarah IAI Jawa Timur

Latar Belakang

Berawal  dari undangan  International  Conference/Seminar On Tall Building  di Jakarta pada tahun 1974 bertempat di Hotel Indonesia, dengan pembicara utamanya Prof. Ir.  Pooseno  dari pihak Indonesia  dan beberapa  orang asing,  di antaranya tokoh-tokoh dari  Jepang  (tidak  ingat/tercatat   namanya).    Pada  kesempatan   itu  beberapa  dosen  tetap Jurusan Arsitektur ITS ikut hadir memenuhi undangan seminar tersebut, di antara mereka itu ialah:  Ir. Sugeng  Gunadi,  Ir.  Johan  Silas,  Ir.  St.  Setiadi,  Ir.  Harjono  Sigit,  dan  Ir.  HW. Kwari/Ir. Djelantik.  Selain itu, ada juga  utusan dari pemerintah kota Surabaya,  apabila tidak salah yang hadir ialah: Ir. Sadjarwo Soekardiman dan Ir. Alex Amirullah.

Di  sela-sela  acara  seminar  tersebut,  kami  yang  datang  dari  Surabaya  bertemu  dan berbincang-bincang   dengan   rekan-rakan   alumni   Jurusan   Arsitektur   ITB  yang   menjadi anggota IAI Nasional  dan juga hadir, yang di antara mereka  berdomisili  di Jakarta, bahkan ada yang telah mendirikan  perusahaan konsultan serta membuka praktek profesional  sebagai arsitek, seperti Atelier-6, misalnya.

Di antara rekan-rekan  kami  itu ada juga  yang menjadi pengurus IKATAN  ARSITEK INDONESIA, seperti Ir. Adhi Moersid, Ir. Darmawan Prawirohardjo, Ir.  Robby Soelarto, dll. Selain itu, yang juga penting  untuk  disampaikan  di sini ialah kehadiran  rekan-rekan  dari Pemda  DCI  Jakarta  (dulu  namanya daerah Khusus  Ibukota  Jakarta),  yang  sebagai  tuan rumah, dalam seminar tersebut sangat berkepentingan berkaitan dengan Jakarta sebagai ibu kota Indonesia yang memasuki Era pembangunan  Bangunan  Pencakar  Langit.

Seminar  yang  topik   utama-nya   “TALL  BUILDING”   itu  mempresentasikan  rancangan gedung  WISMA  NUSANTARA   se-tinggi  30  lantai  yang  dirancang   oleh  Prof.  X dari  dari Jepang, yang ternyata  menjadi “KELINCI  PERCOBAAN” bagi sang Prof., sebagai bangunan jangkung pertama di Indonesia, bahkan di Asia waktu itu.  Jadi dalam hal ini, kita bangsa Indonesia boleh bangga memiliki bangunan pencakar langit lebih dahulu.

Dalam perbincangan dengan rekan-rekan  IAI dan DCI itu ditekankan  akan pentingnya masalah perencanaan lingkungan dan perancangan bangunan, khususnya lagi di bidang arsitektur.  Mengingat  terciptanya  lingkungan binaan tidak terlepas dari peran arsitek sebagai perancang  yang bertanggung-jawab terhadap  baik buruknya  lingkungan  yang direncanakan sebagai tempat  tinggal  dan aktivitas manusia  pada umumnya  dan lebih lagi,  secara  khusus bagi kota-kota  besar  seperti  Jakarta itu.   Bahwa di DCI telah terjalin  kerjasama  yang baik antara  Pemerintah  Kota  dan LAI dalam  upaya  pengendalian  perkembangan  dan ketertiban pembangunan kota Jakarta tersebut.

Di DCI   pada   saat   itu   telah   tercipta   mekanisme pengendalian dan penertiban pembangunan   bangunan   gedung dengan  salah  satu  pranatanya   yaitu  Surat  ljin Bekerja Perancang (SIBP) bagi para arsitek yang menjalankan praktik profesinya.   Kami  yang datang dari daerah ditantang  untuk mendirikan  cabang  IAI, dan kami merasa  itu sebagai  sebuah misi dan menjadi kewajiban yang harus diemban.

Dalam  kesempatan   itu  pula  kami  yang  hadir  sekaligus diminta mendaftarkan  diri menjadi  anggota IAI, yang waktu itu belum ada IAI Pusat atau IAI daerah.  Yang ada ialah organisasi  IAI  Nasional,   sebagai  wadah  bagi  para  arsitek  yang  menjalankan  profesinya sebagai perancang bangunan. Pada waktu itu IAI Pusat-nya  berkedukukan di Bandung.

Mengingat  para  pendirinya   adalah  para  alumni  Jurusan  Arsitektur   ITB  di Jakarta yang merupakan Cabang.  Baru kemudian   kedukukan Organisasi disepakati  untuk  dipindah  dan  berpusat  di  Jakarta  sebagai  ibu kota  Indonesia.    

Sekembali  dari  Jakarta,  kami  yang  ikut  hadir  mengadakan  pertemuan  (walau  tidak seketika)  untuk  mendirikan organisasi  profesi  IAI  di  Surabaya waktu  itu belum  terpikir untuk pendirian  IAI wilayah  Jawa  Timur.   Kemudian, dari hasil pendaftaran pertama itu, sejauh yang kami ingat, yang ternyata telah disahkan dengan  SK IAI Pusat/Nasional No: IAI/R.A/002/75 untuk Jawa Timur tertanggal 1 Nopember 1975, dapat kami sampaikan Daftar Anggota IAI Cabang Jawa Timur, yang sekaligus dianggap sebagai pendiri. Bahwa waktu itu anggota IAI Nasional sebelum kami baru ada 83 orang, baik yang berdomisili di Bandung maupun Jakarta. Pada waktu itu anggota IAI Daerah Jawa Timur telah beranggotakan 395 orang.

PROSES PERKEMBANGAN KEPENGURUSAN IAI DAERAH JAWA TIMUR

Perkembangan  kepengurusan IAI Daerah  Jawa Timur telah mengalami  proses  pasang surut yang  boleh  dikatakan unik. Sebagaimana  telah  disinggung  di  atas,  sekembali  dari Jakarta,  kami  yang  ikut hadir dalam  International  Conference/Seminar  On  Tall  Building mengadakan  perte-muan  (walau tidak  seketika)  untuk mendirikan  organisasi  profesi  IAI di Surabaya; perlu ditegas-kan  bahwa pada waktu itu belum ada gagasan tentang  adanya  IAI wilayah  Jawa  Timur yang hadir ialah IAI NAsional. Kami para  anggota  awal itu masih merupakan anggota IAI Nasional tersebut berdasarkan SK IAI Nasional itu.

Jadi, sejak 1 Nopember 1975 dari sejumlah anggota  awal tersebut  kami  mencoba membentuk  wadah organisasi  IAI untuk Surabaya.  Yang pertama  harus ditunjuk  Pengurus IAI  Surabaya.   Setelah melakukan diskusi yang cukup serius, maka ada satu pertimbangan  strategis yang digunakan sebagai  dasar  pemilihan  Pengurus  IAI  Surabaya  tersebut,  yaitu  bahwa  dalam  era  situasi kenegaraan   dan   kepemerintahan    waktu   itu   diperlukan   adanya   akses   yang   mudah   ke pemerintahan.     Berdasarkan   pertimbangan  tersebut   diskusi   memutuskan   bahwa   untuk menduduki jabatan Ketua IAI Surabaya ditentukan orang dari pemerintahan Kota Surabaya. Anggota  IAI yang duduk di pemerintahan pada waktu  itu  antara  lain  ialah   Ir.Alex  Amirullah  dan  Ir.Sadjarwo Sukardiman.     Karena  Ir. Sadjarwo  Sukardiman   pada  saat  itu   sedang  menjabat  jadi  agar  tidak  terjadi   konflik kepentingan,  maka  yang  dipilih  untuk  menduduki  Ketua  IAI  ialah  Ir.Alex  Amirullah wakilnya, merangkap  sekretaris  dipilih   dari  Perguruan  Tinggi,   yaitu  Ir.  Sugeng   Gunadi. Selebihnya   adalah   anggota    biasa.  Pengurus   ini berjalan dengan  “santai”, satu  dan  lain  hal  mengingat anggotanya hanya beberapa orang  saja  (kurang  dari  5  orang), sehingga  “TIDAK PERLU DIURUS”.  Selain  itu masing-masing sudah  punya  proyek  sendiri-sendiri dan  tidak  perlu  dikawatirkan akan  etika, komitmen serta  tanggung jawabnya. Perlu dijelaskan para  arsitek tersebut  telah “mengantongi” dan  memiliki SKS yang  sangat  besar  (sampai  210  sks,  dulu  unit),  dibanding SKS lulusan  sekarang  (hanya  140 sks),  yang meliput  semua  mata  kuliah  penting  dan utama  di bidang  arsitektur dan konstruksi, termasuk mata pelajaran Konstruksi Kayu,  Beton  dan Baja. Sebagai   contoh,   Tugas   Konstruksi  Baja  yang   diperoleh  sewaktu   kuliah   di  ITB   dapat mencapai  bentang 30 sampai 40 meter  untuk  Struktur   Kuda-kuda Rangka  Baja.    Sampai sekarang  kalau diminta  menghitung Konstruksi Beton pale Harjono  Sigit masih  bisa.

Masa kepengurusan   diperkirakan  sampai   lebih   kurang   tahun 1980, untuk   kemudian  diganti   dengan Pengurus  Baru yang Ketuanya ditunjuk Ir. Harjono  Sigit dan Sekretarisnya Ir. Moerhanniono, kalau  tidak  salah  sekaligus   merangkap  sebagai  Bendaharawan.    Pertambahan keanggotaan IAI  Surabaya/ Jawa Timur  masih  tetap  seret dan Pengurus  Kedua inipun juga tetap  “santai”. Pengurus   Kedua  ini  berlangsung lebih  kurang  sampai  tahun 1986.   Pengurus  Ketiga   ini  diketuai   oleh  Ir. Sugeng Gunadi, MLA.,  dengan  Sekretarisnya masih  tetap  Ir. Moerhanniono, yang juga tetap merangkap sebagai  Bendaharawan.

MUSDA IAI Daerah Jawa Timur

Baru  pada   tahun   1989 terjadi   pergantian  Pengurus baru (keempat)  yang  dipilih secara  resmi  dalam  Musyawarah  Daerah   Pertama  dan  dikukuhkan peresmiannya  oleh Ketua  Umum   IAI  Pusat,   yang  waktu  itu  dijabat oleh  Ir.Adhi  Moersid.    Musda  ke  I dan Pelantikan  Pengurus   baru  ini  dilakukan di  Ge-dung  Pertemuan Kawasan Industri  SIER  di Rungkut. Pada saat  itu sekaligus diadakan Penataran Kode  Etik oleh  Ir. Adhi  Moersid,  dan Penataran Strata I.

Berdasarkan AD/ART IAI Pusat,  sejak saat itu status  LAI Surabaya/Jawa Timur  berubah da-ri  Cabang  menjadi Daerah, dengan  ketentuan bahwa  IAI Daerah  yang susunan kepengurusannya lebih  lengkap,  memiliki wilayah  kepengurusan setingkat  provinsi,  sedang IAI  Cabang  memiliki wilayah  kepengurusan setingkat  Kabupaten atau  Kota.   Dalam  hal ini karena  Kota  Surabaya  telah  memiliki   pengurus   daerah,  maka  tidak  diperlukan  Pengurus Cabang  Surabaya..   Susunan  Pengurus Daerah  yang pertama  yang dipilih  dalam Musda  I dan dilantik  secara  resmi  ini  terdiri  dari Ketua,  Sekretaris,  Bendaharawan,  dan  Bidang-bidang Minat. Masa bakti kepengurusan IAI Daerah  berdasarkan komitmen ditentukan  salama  3 tahun.

Alamat Pengurus

Alamat  Kantor  Pengurus  menjadi salah satu kendala  yang cukup rumit untuk menjaga netralitas,  maka  alamat pengurus  tidak selayaknya berada di Perguruan Tinggi,  sebagaimana yang sudah-sudah harus dicari tempat  yang memadai.  Alamat  kantor  ini mengalami beberapa  kali perpindahan, pernah  di JI. Pucang Anom  Timur no. Xx Surabaya.  

Pada tahun 1992 sesuai ketentuan bahwa  masa bakti selama  3 tahun,  diadakan MUSDA KE II – IAI Daerah  Jatim.   Musda  ke II ini diadakan  di Hotei  Sahid Surabaya  yang dihadiri oleh Ketua Umum  IAI Pusat, yang waktu  itu dijabat  oleh Ir. Syachru Syarif.   Dan pengurusan ini  berlangsung hingga Pada tahun  2009 yaitu MUSDA KE VII.